Hampir semua penghuni bumi saat ini merasakan adanya keadaan yang tidak cukup nyaman. Masyarakat Indonesia misalya, di saat sebagian kawasan merasakan suhu yang sangat tinggi, pada saat yang sama di kawasan lain masyarakatnya sedang kebingungan mengungsi karena adanya banjir besar. Angin puting beliung, fenomena abrasi yang semakin mengkhawatirkan, menciutya daratan karena luapan air lautdan sejulah bencana alam merupakan fenomena yang seolah semakin akrab terdengar di telinga.

Melihat fenomena tersebut, manusia berusaha untuk mencari penjelasan tentang (1) apa yang sebenarnya terjadi, (2) mengapa hal ini bisa terjadi dan, (3) bagaimana cara penanganannya? Sebagian orang menjadikan global warming sebagai isu utama untuk menjelaskan berbagai fenomena bencana alam yang sedang banyak berlangsung. Gas rumah kaca yang terdiri dari karbondioksida (CO2), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC dijadikan sebagai “kambing hitam”  atas adanya fenomena global warming. Hal ini karena gas-gas tersebut menyebabkan adanya efek rumah kaca yang menyebabkan suhu bumi semakin panas.

Benarkah berbagai bencana alam yang dialami bumi akhir-akhir ini merupakan akibat adanya global warming? Benarkah global warming terjadi karena adanya efek rumah kaca? Benarkah efek rumah kaca terjadi sebagai akibat emisi gas rumah kaca yang semakin meningkat? Tulisan ini akan mencoba mengkaji tentang sebab dan akibat global warming, serta lengkah-langkah bijak apa yang dapat dilakukan untuk menghadapi fenomena ini.

GLOBAL WARMING dan EFEK RUMAH KACA

Bagian pertama tulisan ini akan mencoba mengkajiglobal warming secara definitive. Global warming merupakan fenomena penigkatan temperature global dari tahun ke tahun karena terjadinya efek rumah kaca (greenhouse effect) yang disebabkan oleh meningkatnya emisi gas-gas seperti karbondioksida (CO2) ), metana (CH4), dinitrooksida (N2O) dan CFC sehingga energi matahari terperangkap dalam atmosfer bumi (http://geo.ugm.ac.id).

Apakah yang dimaksud dengan Efek Rumah Kaca? Sebelum menjawab pertanyaan ini, berikut disajikan kronologi bagaimana ilmuan menemukan fenomena rumah kaca ini:

  1. Pada sekitar tahun 1820, Fourier menemukan bahwa atmosfer itu sangat bisa diterobos (permeable) oleh cahaya Matahari yang masuk permukaan Bumi, tetapi tidak semua cahaya yang dipancarkan ke permukaan Bumi itu bisa dipantulkan keluar, radiasi infra merah yang seharusnya terpantul terjebak, dengan demikian maka atmosfer Bumi menjebak panas (prinsip rumah kaca).
  2. Tiga puluh tahun kemudian, Tyndall menemukan bahwa tipe-tipe gas yang menjebak panas tersebut terutama adalah karbon-dioksida dan uap air. Moleku-molekul tersebut yang akhirnya dinamai sebagi gas rumah kaca, seperti yang dikenal sekarang. Arrhenius kemudian memperlihatkan bahwa jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatgandakan, maka peningkatan temperature permukaan menjadi sangat signifikan.
  3. Semenjak penemuan Fourier, Tyndall, Arrhenius tersebut, ilmuwan semakin memahami bagaimana gas rumah kaca menyerap radiasi, memungkinkan membuat perhitungan yang lebih baik untuk menghubungkan konsentrasi gas rumah kaca dan peningkatan Temperatur. Jika konsentrasi karbon-dioksida dilipatduakan saja, maka temperatur bisa meningkat sampai 1̊C (langitselatan.com).

Efek rumah kaca dengan demikian dapat dijelaskan sebagai berikut: Matahari meradiasikan energi panas dalam bentuk gelombang elektromagnetik dan sebagiannya menerpa permukaan bumi. Ketika gelombang elektromagnetk tersebut menerpa permukaan bumi, maka sebagian energinya diserap oleh tanah dan sebagian yang lainakan dipantulkan kembali ke udara. Bagian dari energi yang dipantulkan, sebagian akan diteruskan ke angkasa dan sebagian yang lain diikat oleh gas-gas rumah kaca. Layaknya proses dalam rumah kaca di pertanian dan perkebunan, gas-gas rumah kaca berfungsi menahan panas untuk menghangatkan rumah kaca.

Efek rumah kaca dalam keadaan normal sebenarnya merupakan “berkah” bagi bumi. Adanya efek rumah kaca menyebabkan suhu bumi menjadi cukup hangat. Tanpa fenomena ini, suhu bumi bisa berada pada kisaran -18̊ C (agusset.wordpress.com) dan tentu saja suhu tersebut bukanlah rentang suhu yang dapat digunakan untuk kehidupan. Sehingga pada dasarnya efek rumah kaca ini adalah sesuatu yang dibutuhkan oleh bumi dan kehidupan yang ada di atasnya.

Mengingat demikian besarnya jasa gas-gas rumah kaca bagi kehidupan, maka tidak berlebihan kalau ada pertanyaan mengapa kini manusia menjadikan gas-gas rumah kaca sebagai “kambing hitam” atas berbagai bencana di muka bumi? Penjelasannya tidaklah terlalu rumit, seandainya di atmosfer terdapat konsentrasi gas rumah kaca dalam jumlah yang cukup besar, maka akan ada semakin banyak energi matahari yang terikat di atmosfer (tidak dilepas kembali di angkasa). Jika energi matahari yang semestinya dilepas ke angkasa justru diikat oleh gas rumah kaca, maka keadaan ini tentu saja akan membuat atmosfer semakin panas. Manakala atmmosfer semakin panas maka akan ada begitu banyak dampak lanjutan seperti: es kutub mencair, permukaan air laut meningkat, angin siklon dan sebagainya.

SEBAB MUNCULNYA GLOBAL WARMING

Peryataan bahwa gas-gas rumah kaca dapat mengikat energi panas matahari sehingga terperangkap di atmosfer, merupakan hal yang tidak terbantahkan lagi. Namun apa yang sebenarnya menyebabkan fenomena global warming, masih menjadi perdebatan. Sebagian besar ilmuwan berpandangan bahwa gas rumah kaca, terutama karbon dioksida, sebagai sesuatu yang paling bertanggung jawab atas fenomena global warming (www.effectglobalwarming.com). Sebagian yang lain berpandangan bahwa polusi karbondioksida yang selama ini terjadi tidak cukup signifikan untuk menyebabkan global warming karena jumlahnya hanya 0.04% dari keseluruhan gas di atmosfer. Selain itu, sebagian ahli juga menyatakan bahwa seluruh gas yang ada di atmosfer adalah gas rumah kaca, tanpa terkecuali dimana komposisi terbesar adalah nitrogen (78%), oksigen (21%), dan uap air (hingga 3%) (http://agusset.wordpress.com).

Pandangan lain muncul dari sebagian ahli geologi, berdasarkan riset yang dilakukan, sebenarnya fenomena global warming merupakan siklus biasa yang memang harus terjadi di bmi, sehingga keberadaannya tidak dapat dicegah(http://rovicky.wordpress.com).sedangkan sebagian kecil astronom, seperti Zecharian Sitchin “menuduh”, Planet X yang dipercaya sebagai nibiru, merupakan planet yang bertanggungjawab atas berbagai bencana yang terjadi di bumi akhir-akhir ini, termasuk adanya fenomena global warming dengan berbagai dampaknya. Planet tersebut dipercaya memiliki ukuran yang sangat besar dan merupakan salah satu anggota tata surya, namun memiliki orbit ayng sangat eksentrik dengan periode 3661 tahun. Kehadirang planet tersebut di dekat bumi akan mengganggu gravitasi dan medan magnet bumi sehingga kemungkinan besar mampu merubah posisi kutub bumi. Hadirnya planet tersebut merupakan pertanda bagi hancurnya peradaban manusia dan munculnya peradaban berikutnya. (http://forum.detik.com).

Pandangan dari sebagian geologist maupun astronom yang disebutkan terakhir agaknya tidak perlu ditanggapi secara serius. Hal itu karena keduannya nampak sangat spekulatif dalam merespon isu global warming . pandangan bahwa global warming merupakan sesuatu yang tidak dapat dicegah karena ia akan datang dan pergi secara alamiah,merupakan cara pandang yang terlalu “pasrah”. Padahal manusia diberi akal oleh Tuhan untuk mengantisipasi berbagai keadaan yang mungkin akan dihadapi.

Gagasan Zecharian Sitchin, seorang astronom yang mengatakan bahwa berbagai bencana alam yang terjadi di muka bumi merupakan akibat semakin mendekatnya nibiru ke daerah orbit juga merupakan rekaan yang belum diterima oleh sebagian besar astronom. Ternyata Sitchin mengemukakan pandangannya tidak disertai dengan bukti yang empiris dari hasil suatu observasi, melainkan “sekedar” menyandarkan pendapatnnya pada suatu tulisan kuno sumeria (langitselatan.com).

Adapun pandangan pertama yang menganggap bahwa global warming berkaitan erat dengan emisi gas rumah kaca (salah satunya CO2) merupakan penjelasan yang paling memuaskan sampai saat ini. Sejak tahun 2001, studi-studi mengenai dinamika iklim global menunjukan bahwa paling tidak, dunia telah mengalami pemanasan lebih dari 3C semenjak jaman pra-industri dan sejak tahun 1900 Bumi telah mengalami pemanasan sebesar 0,7C(langitselatan.com). hal ini menunjukkan ada kaitan yang sangat serius antara peningkatan suhu Bumi dengan emisi gas karbondioksida.

AKIBAT GLOBAL WARMING

Sebagian besar ilmuwan sepakat bahwa meningkatnya emisi gas karbondioksida dapat menyebabkan efek rumah haca, efek rumah kaca jika dibiarkan akan menyebabkan kenaikan suhu global(global warming), dan dampak terbesar dari fenomena global warming adalah adanya perubahan iklim global. Sebenarnya efek utama peningkatan konsentrasi gas rumah kaca adalah naiknya suhu bumi, namun kenaikan suhu bumi akan memiliki begitu banyak dampak lanjutan.

Suhu bumi yang meningkat akan mempercepat proses pencairan es di daerah kutub. Es yang mencair akan mengisi lautan, akibatnya ph air laut berubah (sangat berpengaruh bagi biota laut), tinggi air laut meningkat, terjadinya abrasi di daerah pantai, daratan menyempit, dan pulau-pulau kecil akan lenyap “ditelan” laut. Bukan itu saja, akibat meningkatnya suhu bumi, di daerah hangat (non kutub) akan menjadi lebih lembab karena lebih banyak air yang menguap dari lautan. Kelembaban yang tinggi ini akan memicu meningkatnya curah hujan dan memungkinkan bagi terjainya badai dalam skala besar. Selain itu, air akan lebih cepat menguap dari tanah, akibatnya akan ada banyak tanah kering. Angin akan berjalan lebih kencang, topan badai akan memperoleh kekuatannya dari penguapan air. Berlawanan dengan pemanasan global yang terjadi, beberapa periode yang sangat dingin mungkin akan terjadi (wikipedia). Bahkan dampak akhirnya adalah dimulainya kembali zaman es. Sehingga dapat dikatakan, hal yang paling menakutkan dari efek rumah kaca bukanlah global warming, melainkan hadirnya kembali zaman es, karena hal ini berarti merupakan akhir peradaban manusia sekarang.

LANGKAH ANTISIPATIF

Mengingat sedemikian besar dan luas dampak yang ditimbulkan oleh global warming, maka manusia hendaknya melakukan langkah-langkah antisipasi. Namun, sebelum memperdalam teknik antisipasi global warming, harus disadari dahulu bahwa fenomena global warming walau bagaimanapun masih merupakan “barang gaib” yang belum diketahui secara pasti (100%) apa penyebabnya. Sehingga jangan sampai manusia menjadikan isu ini sebagai isu sentral dan menguras dana serta pikiran yang berlebihan. Jangan sampai negeri ini diperalat oleh bangsa-bangsa maju untuk memperoleh keuntungan bisnisnya. Sebagai contoh : kesepakatan yang dibuat oleh hampir semua negara pada saat konferensi tentang perubahan iklim dunia di Bali beberapa bulan lalu, bahwa negara-negara berkembang (termasuk Indonesia) bertanggung jawab untuk ikut mengangani emisi gas CO2 yang di buat oleh negara-negara industri maju. Negara berkembang diwajibkan untuk menyediakan lahannya sebagai tempat konservasi alam dengan dana bantuan (kata lain dari hutang) dari negara-negara maju. Bukankah ini merupakan cara lain bangsa-bangsa barat memaksa agar negara-negara berkembang berhutang pada mereka? Bukankah ini cara lain bagi mereka untuk mengendalikan negara-negara berkembang? Bukankah ini cara lain bagi bangsa barat untuk menjajah (kembali) negara-negara berkembang?

Langkah-langkah antisipasi tetap harus dilakukan, namun dengan cara yang wajar dan tidak membelenggu. Sejauh belum tersedia kendaraan yang lebih ramah lingkungan, tidak mengapa bagi kita untuk berkendara dengan bahan bakar minyak, namun tetap harus hemat. Sejauh PLN hanya mampu menyediakan listrik berbahan bakar minyak, tidak mengapa kita menggunakan listrik di rumah-rumah, namun tetap harus hemat. Hemat agak berbeda dengan “pelit”, hemat merupakan sikap hidup yang bersahaja dan menggunakan sesuatu seperlunya.

Secara bersamaan penting bagi manusia untuk terus menciptakan inovasi teknologi, mengembangkan bahan bakar non fosil (seperti energi matahari, angin, magnet, gravitasi, dll) untuk mengurangi emisi gas CO2. Selain itu, setiap individu perlu mendidik dirinya agar cinta pada lingkungan hidup. Menanam pohon atau tanaman apapun di rumah-rumah, meskipun nampaknya kecil pengaruhnya namun jika dilakukan oleh seluruh penduduk bumi, maka dalam waktu 10-20 tahun yang akan datang akan tumbuh berjuta-juta pohon baru yang dapat ikut mengimbangi laju emisi gas rumah kaca.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s